MAKALAH OBSERVASI
Manajemen Berbasis Sekolah Standar Nasional
SD N Kutowinangun 01 Salatiga
Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Slameto, M.Pd
Disusun oleh :
Kelas D / Kelompok 2
Anggota :
1. Sri Budi Warningsih 292008155
2. Novensia Risma A 292008163
3. Mustika Puspitasari 292008040
4. Erna Noviyanti 292008053
5. Heni Kusumawati 292008013
6. Meta Purwati 292008184
Program Studi SI Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Kristen Satya Wacana
Salatiga
2010
DAFTAR ISI
Daftar Isi
Abstraksi
Bab I Pendahuluan.....................................................................................
A. Latar Belakang Masalah.............................................................
B. Rumusan Masalah.......................................................................
C. Tujuan Penelitin..........................................................................
D. Manfaat Hasil Penelitian..............................................................
E. Hipotesis ...................................................................................
Bab II Pelaksanaan Penelitian......................................................................
A. Lokasi dan Waktu Penelitian.......................................................
B. Subjek Penelitian........................................................................
C. Variabel Penelitian......................................................................
D. Teknik Pengumpulan Data..........................................................
E. Teknik Analisis...........................................................................
Bab III Hasil Penelitian dan Pembahasan.......................................................
A. Hasil Penelitian...........................................................................
B. Pembahasan...............................................................................
Bab IV Penutup............................................................................................
A. Kesimpulan................................................................................
B. Saran.........................................................................................
Daftar Pustaka
Abstraksi
Dalam bidang pendidikan, Pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Managemen Berbasis Sekolah.
Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan.
Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tjuan yang telah ditetapkan,baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya.
MBS merupakan paradikma baru pendidikan,yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kibijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.
SD N Kutowinangun 01 adalah salah satu sekolah yang sudah memiliki standar nasional dan juga sudah menjalankan Manajemen Berbasis sekolah. Dan dengan MBS yang sudah mulai berjalan terdapat perubahan yang membuat sekolah ini semakin menmpunyai integritas terhadap tingkat kelulusan siswa-siswanya.
Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Melihat kenyataan bahwa mutu pendidikan di Indonesia selama ini kurang memuaskan banyak pihak, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Upaya peningkatan kualitas pendidikan dapat dilakukan dengan melakukan reformasi pendidikan, model reformasi yang ditawarkan adalah salah satu bentuk alternatif pengelolaan sekolah dalam program desentralisasi di bidang pendidikan.
Pembaruan yang direncanakan dan di implementasikan secara terpusat sering tidak mampu memperbaiki inti kegiatan sekolah yaitu Proses Belajar Mengajar, oleh karena itu sekolah membutuhkan dukungan sumber daya pendidikan yang ajeg dan konsisten tapi pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten tidak mampu memenuhinya.
Setiap sekolah memiliki kekhasan, keunikan, kebolehan, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya. Sekolah bukan sekadar subordinasi atau pelaksanaan program-program dari atas, akan tetapi mereka merupakan gardan terdepan yang harus diberdayakan dalam pengambilan keputusan, dan pengelolaan secara mandiri, karena sekolah paling tahu permasalahan dan kebutuhannya sendiri.
Sekolah Dasar Negeri Kutowinangun Salatiga sudah menerapkan MBS sejak 2006 yang lalu. SD ini sudah berjalan selama empat tahun. Bagaimana perjalanan MBS yang sudah ada. Dan inilah yang menjadi tugas kami untuk melakukan penelitian tersebut. Yang menjadi tugas khusus dari mata kuliah ini, yaitu MBS di sekolah ini dan bagaimana implementasinya.
B. Rumusan Masalah
Di SD N Kutowinangun 01 Salatiga merupakan sekolah yang sudah memenuhi standart sekolah nasional. Bagaimana dengan impementasi MBS yang sudah ada, dan apa yang telah dihasilkan oleh MBS di sekolah tersebut.
C. Tujuan
Tujuan dari penelitian ini yaitu :
a. Dari kelompok kami yaitu memenuhi tugas dengan mata kuliah Manajemen Berbasis Sekolah.
b. Sekolah akan mengerti lagi permasalahan yang sedang terjadi
c. Dapat mengetahui kelebihan dan kelemahan SD tersebut.
d. Kepala sekolah dan Guru akan lebih semangat lagi dalam bekerja karena SD mereka yang menjadi tempat bekerja ternyata SD yang bagus. Dapat mengukur kembali kemampuan yang ada.
e. Dapat meningkatkan tingkat profesionalitasnya.
D. Manfaat
Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ) mempunyai tujuan khusus diantaranya :
a. Meningkatkan kemampuan personil pendidikan (seperti guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, anggota komite sekolah, tokoh masyarakat)
b. Meningkatkan kualitas sekolah
c. Meningkatkan personil pendidikan anggota komite sekolah dan tokoh masyarakat untuk melaksanakan PAKEM di sekolah
d. Meningkatkan peran serta masyarakat termasuk anggota komite sekolah, orang tua siswa, dan anggota masyarakat dalam urusan pendidikan untuk meningkatkan kinerja sekolah
E. Hipotesa
Hipotesa yang berani kami berikan yaitu bahwa SD N Kutowinganun 01 ini adalah SD yang bagus dan merupakan Sekolah Standar Nasional, jadi menurut hipotesa kami, SD ini mempunyai manajemen yang bagus, implementasi yang berjalan baik dan hasil yang telah dicapai berkembang pesat setelah adanya MBS.
Bab II
Pelaksanaan Penelitian
A. Lokasi dan waktu penelitian
- Lokasi Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi di SD N Kutowinangun 01 Salatiga dengan pertimbangan peneliti membutuhkan sekolah yang sudah berstandar nasional. Peneliti mendapat ijin ke sekolah ini dan sekolah tersebut sudah memenuhi SSN.
- Waktu Penelitian
Kami peneliti telah menggunakan waktu selama tiga hari untuk melakukan penelitian. Waktu yang digunakan yaitu :
a. Jumat,15 Oktober 2010 perkenalan dan meminta ijin untuk melakukan penelitian.
b. Selasa, 19 Oktober 2010 untuk menyerahkan proposal, surat pengantar dan menyerahkan lampiran daftar pertanyaan serta angket.
c. Rabu, 20 Oktober 2010, melakukan penelitian, wawancara dan dokumentasi.
B. SUBYEK PENELITIAN
Subyek penelitian yang akan kami teliti yaitu kepala sekolah dan salah satu wakil guru kelas dari SD Kutowinangun 01 Salatiga.
C. VARIABEL PENELITIAN
Variabel penelitian yang menjadi titik tolak kami adalah manajemen berbasis sekolah, dengan bertumpu pada 3 pilar yaitu manajemen sekolah, PAIKEM dan PSM ( Peran Serta Masyarakat )
D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1. Instrumen pengumpulan data Manajemen Berbasis Sekolah menggunakan angket serta wawancara yang melibatkan kepala sekolah serta salah satu perwakilan guru kelas.
2. Instrumen pengumpulan data dengan data-data tingkat keberhasilan siswa .
Bab III
Pembahasan
A. Hasil Penelitian
Soal dan jawaban tentang MBS dari hasil wawancara SD N Kutowinangun 01 Salatiga
A. Sejarah MBS di SD N Kutowinangun 01
1. Sejak kapan diintroduksi MBS?
MBS mulai diterapkan di SD N Kutowinangun 01 sejak tahun 2002.
2. Siapa pemula dan aktor-aktor MBS di SD ini dan apa saja peran masing-masing?
- Ketua : Kepala Sekolah : Lisman Hadi
- Pelaksana : Joko Winarno
3. Tonggak-tonggak peristiwa penting?
Semenjak diterapkannya MBS di SD ini guru membuat variasi pengajaran yang disebut dengan “sarapan pagi”. Guru membuat biasanya 5 butir soal yang ditaruh di dalam sebuah kotak yang disebut “kotak sarapan pagi”, dan soal-soal tersebut biasanya disesuaikan dengan jadwal pelajaran pada hari bersangkutan. Kemudian siswa berangkat ke sekolah lebih awal demi berebut soal-soal “sarapan pagi” yag terbatas itu. Dengan diadakannya “sarapan pagi” ini para siswa menjadi lebih disiplin terutama dalam ketepatan waktu datang ke sekolah.
4. Pengalaman keberhasilan MBS SD ini yang patut dibanggakan?
Sejak diterapkan MBS, Keberhasilan SD ini salah satunya SD Kutowinangun 01 selama penerapan MBS mampu bekerjasama dengan salah satu klub bulutangkis milik Safari, dimana para siswa klub tersebut bersekolah di SD Kutowinangun sehingga dapat saling membagikan ilmu dan ketrampilannya dalam bulutangkis kepada siswa lain. Selain itu dengan adanya anak-anak dari klub tersebut telah mengangkat nama sekolah karena telah mempu bertanding hingga tingkat nasional.
SD N Kutowinangun 01 ini juga sering mendapatkan juara dalam berbagai macam perlombaan. Diantaranya, juara 1 lomba perpustakaan, juara dalam bidang olah raga, juara 1 bulu tangkis nasional 3x berturut-turut, dll.
5. Pelajaran penting dari pengalaman/ sejarah MBS di SD ini?
Pelajaran penting yang didapat dari MBS yaitu siswa mempunyai disiplin yang tinggi, terutama berangkat lebih awal karena untuk berebut soal yang disebut dengan “sarapan pagi” karena jumlah soalnya terbatas.
B. Perkembangan Implementasi Pilar 1 tentang manajemen sekolah
1. Sejak diintrodusir MBS, siapa saja yang pernah menjabat kepala sekolah di SD ini?
Ø Lisman Hadi
Ø Sujatmiko Spd
Ø Suwardi
2. Karakter kepemimpinan masing-masing kepala sekolah terkait MBS?
Ø Lisman Hadi : Kepemimpinannya bagus tapi banyak bercanda jadi terkesan tidak serius.
Ø Sujatmiko : Berjuang untuk maju dan orangnya tegas. Terlihat saat persiapan untuk lomba benar-benar disiapkan dengan serius sejak kelas 4.
Ø Suwardi : Bagus, lebih tegas, konsekuen dan berjalan sampai sekarang.
3. Upaya apa saja yang telah dilakukan oleh setiap kepala SD ini terkait dengan implementasi: transparansi, partisipasi, kemandirian dan akuntabel?
ü Transparansi : diadakannya musyawarah bersama untuk mengambil keputusan bersama, adanya keterbukaan, saat kepala sekolah akan membelanjakan uang tentu dengan sepengetahuan bendahara, dan semua kegiatan ada laporannya dengan rinci, jelas, dan disertakan pula bukti-buktinya seperti kwitansi.
ü Partisipasi : orang tua ikut berpartisipasi dalam rapat dan musyawarah, mempersiapkan anak saat akan mengikuti lomba, dll.
ü Kemandirian : sekolah punya tanggung jawab secara utuh untuk mengelola dan menyusun ktsp sendiri.
ü Akuntabel : pertanggungjawaban laporan dengan pembutan sebuah LPJ dan juga disosialisasikan pada orangtua murid (rencana kegiatan dan anggaran sekolah).
4. Tingkat keberhasilan implementasi MBS?


5. Faktor pendukung dan kendala yang dihadapi setiap kepala sekolah, dan cara mengatasinya?
- Pendukung : Dukungan dari siswa, guru, kepala sekolah dan komite sekolah
- Kendala : sebagian besar orang tua siswa berpecaharian sebagai pedagang jadi sulit untuk tepat waktu saat diundang/diminta hadir di sekolah karena sulit untuk meninggalkan kegiatan dagangnya. Misalnya saat diundang jam 8 pagi datangnya jam 9 pagi.
6. Pengalaman unik yang terjadi di SD ini terkait dengan pengelolaan SD oleh setiap kepala sekolah?
Kemenangan-kemenangan dari berbagai lomba di tiap-tiap perlombaan.
7. Pelajaran penting dari pengalaman kepala sekolah menerapkan MBS di SD ini?
Antara pihak sekolah, komite, dan masyarakat saling bersinergi atau bersama-sama bekerja sama demi kemajuan sekolah dan siswa, dalam catatan sebelum adanya BOS. Tapi begitu adanya BOS, PSM dalam bentuk dana langsung berhenti, tapi dalam bentuk yang lain masih ada, seperti : saat ada lomba, orang tua masih berperan mengantar anaknya ikut lomba dan memberi dukungan.
C. Perkembangan Pilar 2 PAKEM
1. Sejak diintrodusir PAKEM, siapa saja yang pernah memprakarsai pembentukan dewan guru di SD ini?
- Kepala sekolah pada masa periode kepemimpinan Lisman Hadi dan guru-guru.
2. Karakter aktor utama untuk berfungsinya Dewan Guru terkait PAKEM dalam MBS dan peran anggota yang lain?
Kepala sekolah yaitu Lisman hadi dengan karakteristik kepemimpinan yang bagus cukup tegas walaupun kadang diselingi dengan candaan.
3. Upaya apa saja yang telah dilakukan oleh Dewan Guru dan kepala sekolah dalam implementasi PAKEM?
Kepala sekolah bersama-sama dengan guru berusaha untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi lebih menyenangkan demi peningkatan prestasi siswa. Memajang hasil karya anak yang bagus akan memotivasi siswa karena anak menjadi bangga.
4. Tingkat keberhasilan implementasi PAKEM oleh masing-masing guru?
ü “SARAPAN PAGI” yang merupakan variasi bentuk pembelajaran sampai pernah dilombakan.
ü Dengan adanya PAIKEM, tingkat kenaikan kelas meningkat dan sering menang lomba. Serta bisa dilihat dari hasil UAS BN
ü Nilai yang bagus yang didapat oleh siswa pada “sarapan pagi” akan dipampang, maka anak yang memperoleh nilai bagus tersebut akan merasa senang, bangga, dan semangat belajarnya akan lebih meningkat.
ü Tingkat keberhasilan : Dengan adanya MBS yang diterapkan di SD ini ada kemajuan yang terasa. Anak-anak merasa makin betah untuk megikuti pelajaran dikelas. Nilai yang diperoleh ole anak-anak semakin meningkat.
ü Tingkat keberhasilan masing-masing guru : Persentase kegagalan anak-anak yang tidak naik kelas semakin kecil. Persentase keikut sertaan anak-anak dalam perlombaan semakin meningkat, dan semangat belajar anak-anak semakin meningkat
5. Faktor pendukung dan penghambat suksesnya PAKEM dan jalan keluarnya?
Pendukung : Dana BOS, selain itu pendukungnya adalah kepsek, komite yang didukung wali murid.
Hambatan :
Ø Karena sebagian besar siswa merupakan anak dari para pedagang maka anak-anak tersebut jarang sarapan karena kesibukan orang tua yag tidak sempat membuatkan sarapan bagi anaknya.
Ø Saat disekolah anak-anak lebih tertarik pada mainan daripada dengan makanan, jadi saat jam istirahat uang saku yang seharusnya dibelikan makanan malah dibelikan mainan yang dijual oleh pedagang dari luar bukan dari katin sekolah. Bahkan pernah terjadi kejadian anarkisaat sekolah ditutup oleh para pedagang dari luar, pedagang marah dan sampai merusak bangunan sekolah. Setelah ada surat pernyataan dari kepolisian akhirnya pedagang luar bisa dikendalaikan. Untuk mengatasinya, di kantin sekolah disediakan makanan ringan dan makanan yang mengenyangkan. Selain itu, surat dari kepolisian tersebut juga digunakan untuk mengantisipasiterhadap kejadian negatif yang mungkin bisa terjadi pada siswa misalnya penculikan. Surat dari kepolisian tersebut berisi “bahwa anak-anak tidak boleh keluar / meninggalkan sekolah sebelum jam sekolah selesai”. Dan guru diharuskan mampu mengenali orang yang menjemput anak-anak saat pulang sekolah. Saat ada rapat, orang tua wali yang hadir kebanyakan ibu, yang datang ayah sangat jarang sekali.
6. Pengalaman unik yang terjadi terkait dengan PAKEM SD ini oleh setiap guru?
Prestasi anak semakin meningkat. Tingkat kelulusan dan kenaikan kelas juga semakin baik.
7. Pelajaran penting dari pengalaman para guru SD ini menerapkan PAKEM?
Guru menjadi lebih kreatif Lgi dalam proses belajar. Dan guru juga saling berani dalam menggunakan metode yang bervariasi dan beragam. Jadi anak akan semangat dan menjadi lebih semangat.
B. Pembahasan
1. Sejarah MBS di SD N Kutowinangun 01 Salatiga
Sejarah MBS di Sd kutowinangun 01 Salatiga ini mulai dirintis sejak tahun 2002 yang pada saat itu di ketuai oleh kepala sekolah yang bernama Lisman Hadi dengan pelaksana Joko Winarno. Semenjak diterapkannya MBS di SD Kutowinagun 01 Salatiga ini, banyak terjadi hal-hal baru dan penting yang mendukung kemajuan penggunaan MBS ini, salah satunya dengan variasi pengajaran yang disebut dengan “ sarapan pagi” yaitu dengan pemberian soal yang dirancang oleh guru, yang biasanya terdiri dari 5 soal yang ditarug dalam sebuah kotak yang disebut dengan “kotak sarapan pagi” dan soal tersebut biasnya disesuaikan dengan jadwal pelajaran pada hari yang bersangkutan. Dengan diadakannya “sarapan pagi”, maka para siswa menjadi lebih disiplin terutama dalam ketepatan waktu datang ke sekolah mereka menjadi termotivasi untuk datang lebih awal. Selain itu ada pula keberhasilan SD kutowinangun 01 Salatiga ini dalam bidang olah raga, hal ini juga tak lepas dari upaya dan peran serta penerapan MBS. Selama penerapan MBS ini sekolah mampu bekerjasama dengan salah satu klub bulutangkis milik Safari. Salah satu bentuk kerjasamanya adalah para siswa klub bulutangkis tersebut bersekolah di SD Kutowinangun sehingga dapat saling membagikan ilmu dan ketrampilannyadalam bulutangkis kepada siswa lain. Selain itu dengan keberadaan anak-anak dari klub tersebut, maka anak-anak dari Klub Safari telah membantu mengangkat nama baik sekolah karena telah bertanding hingga tingkat nasiona, bahkan memenangkan kejuaraan bulutangkis nasional selama 3 kali berturut-turut. . Selain kejuaraan tersebut berkat penerapan MBS, SD ini mampu mendapatkan juara dalam berbagai macam perlombaan. Diantaranya, juara 1 lomba perpustakaan.
2. Manajemen Sekolah
Sejak diintrodusir MBS, yang pernah menjabat kepala sekolah di SD ini antara lain Bp. Lisman Hadi, Bp. Sujatmiko Spd, dan Bp. Suwardi. Karakter kepemimpinan dari masing-masing kepala sekolah tersebut diantaranya, Bp. Lisman Hadi dengan karakteristik kepemimpinannya bagus tapi banyak bercanda jadi terkesan tidak serius, Bp. Sujatmiko dengan karakteristik kepemimpnannya yang berjuang untuk maju dan beliau dikenal dengan sikap tegasnya. Terlihat saat persiapan untuk lomba benar-benar disiapkan dengan serius sejak siswa duduk di kelas 4. Dan kepala sekolah yang menjabat saat ini adalah Bp. Suwardi, dengan karakter kepemimpinannya yang dikenal bagus, lebih tegas, konsekuen dan berjalan sampai sekarang.
Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh setiap kepala sekolah SD ini terkait dengan implementasi yang pertama dalam implementasi transparansi dengan diadakannya musyawarah bersama untuk mengambil keputusan bersama, adanya keterbukaan, saat kepala sekolah akan membelanjakan uang tentu dengan sepengetahuan bendahara, dan semua kegiatan ada laporannya dengan rinci, jelas, dan disertakan pula bukti-buktinya seperti kwitansi. Yang kedua implementasi partisipasi yaitu orang tua ikut berpartisipasi dalam rapat dan musyawarah, mempersiapkan anak saat akan mengikuti lomba, dll. Yang ketiga implementasi kemandirian yaitu sekolah punya tanggung jawab secara utuh untuk mengelola dan menyusun ktsp sendiri. Yang ketiga implementasi akuntabel yaitu pertanggungjawaban laporan dengan pembutan sebuah LPJ dan juga disosialisasikan pada orangtua murid (rencana kegiatan dan anggaran sekolah).
Tingkat keberhasilan implementasi MBS di SD ini diantaranya siswa menjadi disiplin, tertib, dan rajin, masuk sekolah pagi tanpa harus ada peringatan dari guru dengan tegas.
Faktor pendukung dan kendala yang dihadapi setiap kepala sekolah, dan cara mengatasinya yang berhubungan dengan manajemen sekolah tersebut adalah sebagai berikut dengan pendukung dukungan dari siswa, guru, kepala sekolah dan komite sekolah. Selain ada pendukung, terdapat pula kedalanya yaitu sebagian besar orang tua siswa berpecaharian sebagai pedagang jadi sulit untuk tepat waktu saat diundang/diminta hadir di sekolah karena sulit untuk meninggalkan kegiatan dagangnya. Misalnya saat diundang jam 8 pagi datangnya jam 9 pagi.
Pelajaran penting dari pengalaman kepala sekolah menerapkan MBS di SD ini yaitu antara pihak sekolah, komite, dan masyarakat saling bersinergi atau bersama-sama bekerja sama demi kemajuan sekolah dan siswa, dalam catatan sebelum adanya BOS. Namun setelah adanya BOS, PSM dalam bentuk dana langsung terhenti walaupun dalam bentuk yang lain masih ada seperti jika ada lomba, orang tua masih berperan mengantar anaknya ikut lomba dan memberi dukungan, namun secara material kurang mendukung.
Ciri –ciri manajemen yang mengacu pada MBS :
- Visi dan misi dirumuskan bersama oleh kepala sekolah, guru, unsur siswa, alumni dan stakeholder.
- Ada rips yang mengacu pada visi dan misi yang telah dirumuskan
- Penyusunan RAPBS sesuai dengan rips yang disusun bersama oleh kepala sekolah, guru, komite secara transparan.
- Akuntabel
- Terwujudnya otonomi sekolah yang ditandai dengan kemandirian dan dinamika sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
- Pengambilan keputusan secara partisipatif dan demokratis
- Terbuka menerima masukan, kritik dan saran dari pihak manapun.
- Mampu membangun komitmen seluruh warga sekolah untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan
- Pemberdayaan seluruh potensi warga sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan
- Terciptanya suasana kerja yang kondusif untuk peningkatan kinerja sekolah
- Mampu memberikan rasa bangga kepada semua pihak
- Ada transparansi dan akuntabilitas publik dalam melaksanakan seluruh kegiatan
Sekolah ini sudah menjalankan MBS dengan baik dengan buktinya hasil penelitian dan jabaran pembahasan data yang ada di atas tersebut.
3. PAIKEM
Sejak diintrodusir PAKEM, yang pernah memprakarsai pembentukan dewan guru di SD Kutowinangun 01 Salatiga adalah Kepala sekolah pada masa periode kepemimpinan yaitu Lisman Hadi dan guru-guru. Karakter aktor utama untuk berfungsinya Dewan Guru terkait PAKEM dalam MBS yaitu kepala sekolah bapak Lisman hadi dengan karakteristik kepemimpinan yang bagus cukup tegas walaupun kadang diselingi dengan candaan.
Upaya apa yang telah dilakukan oleh Dewan Guru dan kepala sekolah dalam implementasi PAKEM adalah kepala sekolah bersama-sama dengan guru berusaha untuk membuat pembelajaran di kelas menjadi lebih menyenangkan demi peningkatan prestasi siswa. Memajang hasil karya anak yang bagus akan memotivasi siswa karena anak menjadi bangga juga merupaka salah satu upaya penyelenggaraan PAKEM.
Tingkat keberhasilan implementasi PAKEM oleh masing-masing guru yaitu “SARAPAN PAGI” yang merupakan variasi bentuk pembelajaran sampai pernah dilombakan. Dengan adanya PAIKEM, tingkat kenaikan kelas meningkat dan sering menang lomba. Serta bisa dilihat dari hasil UAS BN. Nilai yang bagus yang didapat oleh siswa pada “sarapan pagi” akan dipampang, maka anak yang memperoleh nilai bagus tersebut akan merasa senang, bangga, dan semangat belajarnya akan lebih meningkat. Tingkat keberhasilan : Dengan adanya MBS yang diterapkan di SD ini ada kemajuan yang terasa. Anak-anak merasa makin betah untuk megikuti pelajaran dikelas. Nilai yang diperoleh ole anak-anak semakin meningkat.Tingkat keberhasilan masing-masing guru : Persentase kegagalan anak-anak yang tidak naik kelas semakin kecil. Persentase keikut sertaan anak-anak dalam perlombaan semakin meningkat, dan semangat belajar anak-anak semakin meningkat.
Adapun faktor pendukung dan penghambat suksesnya PAKEM adalah dana BOS, selain itu pendukungnya adalah kepala sekolah, komite yang didukung wali murid. Selain itu terdapat pula hambatan-hambatan yaitu karena sebagian besar siswa merupakan anak dari para pedagang maka anak-anak tersebut jarang sarapan karena kesibukan orang tua yag tidak sempat membuatkan sarapan bagi anaknya. Saat disekolah anak-anak lebih tertarik pada mainan daripada dengan makanan, jadi saat jam istirahat uang saku yang seharusnya dibelikan makanan malah dibelikan mainan yang dijual oleh pedagang dari luar bukan dari katin sekolah. Bahkan pernah terjadi kejadian anarkisaat sekolah ditutup oleh para pedagang dari luar, pedagang marah dan sampai merusak bangunan sekolah. Setelah ada surat pernyataan dari kepolisian akhirnya pedagang luar bisa dikendalaikan. Untuk mengatasinya, di kantin sekolah disediakan makanan ringan dan makanan yang mengenyangkan. Selain itu, surat dari kepolisian tersebut juga digunakan untuk mengantisipasiterhadap kejadian negatif yang mungkin bisa terjadi pada siswa misalnya penculikan. Surat dari kepolisian tersebut berisi “bahwa anak-anak tidak boleh keluar / meninggalkan sekolah sebelum jam sekolah selesai”. Dan guru diharuskan mampu mengenali orang yang menjemput anak-anak saat pulang sekolah. Saat ada rapat, orang tua wali yang hadir kebanyakan ibu, yang datang ayah sangat jarang sekali.
Pengalaman unik yang terjadi terkait dengan PAKEM SD ini oleh setiap guru yaitu prestasi anak semakin meningkat. Tingkat kelulusan dan kenaikan kelas juga semakin baik.Pelajaran penting yang dapat diambil dari pengalaman para guru SD ini menerapkan PAKEM salah satunya guru menjadi semakin kreatif dalam proses belajar. Dan guru juga manjadi berani dalam menggunakan metode yang bervariasi dan beragam. Jadi anak akan menjadi lebih semangat dalam proses belajarnya.
Pembelajaran yang dikehendaki dalam MBS :
1. Mengembangkan potensi yang ada pada diri siswa
2. Meningkatkan keaktifan siswa dalam menemukan, memecahkan masalah melalui berfikir ilmiah,logis, kritis, dan praktis.
3. Berani mengemukakan pendapat dalam memecahkan masalah pada situasi kelompok
4. Tidak merasa tertekan dalam proses pembelajaran sehingga anak merasa senang
5. Menerapkan keterampilan bagi diri sendiri, masyaraka, dan lingkungan.
Peran guru yang dikembangkan antara lain :
1. Mendorong keaktifan siswa dalam mengemukakan gagasan ,pendapat,dan ide baru di masa mendatang.
2. Mengembangkan kegiatan beragam dngan menggunakan media dan metode yang bervariasi
3. Memberikan motivasi pada siswa untuk meningkatkan prestasi belajar dengan memajangkan portofolio mereka.
4. berusaha mencapai tujuan pembelajaran sesuai target dan waktu yang disediakan.
Model MBS yang digunakan di SD ini yaitu model MBS dengan kontrol secara seimbang terlihat dengan orang tua siswa dan kelompok profesional ( kepala sekolah dan pendidik ) saling bekerjasama secara seimbang. Biarpun wali murid tidak seratus persen tapi dengan data di atas menunjukkan bahwa semua pihak sekolah ikut terlibat dalam kemajuan sekolah.
4. PSM
Yang telah dilakukan oleh Komite Sekolah SD ini yang berhubungan dengan PAKEM dan penggalangan peran serta masyarakat terkait dengan transparansi adalah keterbukaan antara kepala sekolah dan komite sekolah. Dalam partisipasi, dulu sebelum ada program BOS, kepala sekolah, komite, dan didukung oleh orang tua wali siswa selalu mengadakan musyawarah untuk mengatasi masalah. Contohnya pada saat sekolah ingin membeli peralatan drumband untuk memfasilitasi siswa mereka bermusyawarah bersama dan bahkan orang tua wali sangat memdukung dan mau memberikan iuran dana untuk mewujudkan keinginan membeli peralatan drumband tersebut.
Tingkat keberhasilan implementasi PSM dan Komite Sekolah terlihat pada persentase kenaikan kelas oleh para siswa sangat tinggi walaupun tidak 100%. Namun terdapat pula faktor pendukung dan penghambat/kendala komite sekolah dalam palaksanaan MBS di SD ini, pendukung dana dan penghambat yaitu komite sekolah yang selalu berganti.
Hakikat MBS di SD ini adalah seperti berikut :
- Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab berjalan dengan seimbang
- Pengambilan keputusan bersama telah dilakukan dengan kesepakatan bersama oleh pihak sekolah, PSM dan wali murid.
- Transparansi telah dilakukan oleh sekolah
- Akuntabilitas juga ada data dan lengkap.
Bab IV
Penutup
1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang mendetail di atas. Maka MBS yang ada di SD N Kutowinangun 01 Salatiga, kami simpulkan sebagai berikut :
a. Manajemen Sekolah
Manajemen SD N Kutowinangun 01 Salatiga telah memenuhi standart manajemen sekolah yang sudah ada. SD ini memiliki tingkat manajemen yang sudah teratur, dengan adanya tingkat pengaturan dan pengelolaan. Dari segi administrasi, pencapaian ( RKAS dan RKPS ) beserta laporan pertanggungjawabannya, sarana prasarana yang memadai, inventaris sekolah, penerapan disiplin dan konsekuensinya serta meningkatkan keamapuan keprofesionanya setia guru yang selalu dilaksanak untuk aktif kegiatan belajar mengajar. Visi misi yang disusun dengan semua pihak dan terpajang di depan sehingga mudah dibaca.Dan terdapat Renstra agar sekolah dapat mempunyai tujuan yang dalam waktu tertentu dapat memajukan sekolah dengan pesat.
b. PAIKEM
Untuk Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan di SD ini juga sudah cukup memenuhi standar MBS yang di paparkan. Tugas pokok guru yang mereka pegang telah dikerjakan dengan baik. Guru memahami silabus dan RPP dengan benar, .engajar dengan kraetif dengan metode dan media yang cukup. Sehingga anak dapat konsentrasi dalm belajar.
Ada program tahunan dan program semester yang jelas dan di buat dengan tepat yang baik dan menyusun rencana strategis yang jelas. Dalam proses pembalajaran guru juga membuat pertanyaan yang berkualitas, sehingga pembelajaran menjadi aktif. Ada umpan balik dan evaluasi serta refleksi di akhir pembelajaran.
Sekolah ini juga menggunakan Kriteria Ketuntasan Belajar yang sudah jelas dan di terapkan di sekolah dengan semaksimal mungkin. Dalam penilaian yang dilakukan guru memantau belajar dari proses sampai hasil dari pembelajaran.
c. PSM ( Peran Serta Masyarakat )
PSM di sekolah ini telah melaksanakan tugas dengan semaksimal mungkin. Dari orang tua, walaupun lumayan sulit untuk duduk bersama membahas masalah pendidikan anak-anaknya tapi setidaknya mereka datang dan ikut berpartisipasi dalam kemajuan sekolah. Meski datang tidak tepat waktu dan jumlah yang hadir tidak 100 %. Tapi ada dan berjalan dengan baik. Dan informasi yang diberikan telah mereka dapat dengan jelas oleh pihak sekolah saat musyawarah berlangsung.
Dari komite sekolah juga sudah menjalankan seluruh fungsi dan tugas dengan bekerja sama antara orang tua dan pihak sekolah. Komite sangat medukung, pemberi pertimbangan, pengontrol dan mediator antara pihak sekolah dan orang tua murid. Partisipasi komite yang cukup dan menyusun laporan sebagai laporan pertanggung jawaban setiap akhir tahun.
Menurut kami, SD N Kutowinangun 01 Salatiga menggunakan model MBS dengan kontrol secara seimbang terlihat dengan orang tua siswa dan kelompok profesional ( kepala sekolah dan pendidik ) saling bekerjasama secara seimbang.
SD N Kutowinangun 01 sudah berusaha keras untuk melakukan Manajemen Berbasis Sekolah dengan sebaik-baiknya. Dan dengan pelaksanaan yang sudah berjalan MBS sudah benar meskipun tidak mulus seratus persen. Dengan data yang di peroleh seperti RKAS dan RKPS sudah menunjukkan bahwa sekolah sudah menguunakan prinsi-prinsip MBS yang di tentukan oleh Badan Satuan Pendidikan.
Yang menjadi khas dari sekolah ini yaitu terlakasananya Manajemen Berbasis Kompetensi yang baik salah satunya dengan adanya perpustakaan yang memenuhi standar sarana dan prasarana. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa penghargaan yang diperoleh dari kompetisi perpustakaan SD terbaik se-Salatiga. Selain itu SD Kutowinangun 01 Salatiga, sering memenangkan perlombaan dalam bidang olah raga yaitu kejuaraan Bulutangkis hingga tingkat nasional.
2. Saran
Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu :
a. Menumbuhkan kesadaran seluruh komponen pendidikan, akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal,efektif,dan efisien.
b. MBS juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru, serta kebutuhan masyarakat setempat.
c. Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs, kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi harus memenuhi persyaratan seperti pemahaman prinsip-prinsip MBS sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan, sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan.
d. Sekolah harus siap dengan hambatan yang ada, jadi harus mengkoordinasikan semua pihak yang terkait dengan sebaik mungkin.
e. Bagi orang tua harus lebih menyadari tentang pendidikan anak-anaknya, jadi bersedialah membantu sekolah dalam proses kemajuan anak didk dan sekolah.
Daftar Pustaka
Dirjen Dikti. 2009. Manajemen Berbasis Sekolah. Depdiknas
Fattah. Nanang dan Ali. M. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: Universitas Terbuka
Ra’uf. 2005. Program Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: BP. Darma Bhakti
Lampiran 1
Visi Misi
Visi
Memposisikan sekolah sebagai pusat keunggulan yang mampu menyiapkan dan mengembangkan sumber daya insani yang berkualitas di bidang imtaq, iptekbudseni, dan olahraga.
Misi
1. Melaksanakan pembelajaran aktif, kreatis, efektif, dan menyenangkan.
2. Menumbuhkan semangat keunggulan, kehandalan, dan keteladanan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.
3. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama dan budaya sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
4. Menumbuhkan suasana sekolah yang kondusif dengan menerapkan manajemen partisipatif yang melibatkan seluruh warga sekolah dan masyarakat.
Tujuan
1. Strategis
a. Meningkatkan pemerataan, relevasi, mutu, Efektifitas, dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan.
b. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi.
c. Mengembangkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu, dan menyeluruh.
2. Teknis :
a. Menyusun tata aturan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran.
b. Menyusun paket pendidikan dan pembelajaran.
c. Menyiapkan sarana dan prasana yang menunjang pendidikan dan pembelajaran.
d. Menyiapkan sumber dana yang dapat mendukung pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.
e. Menyiapkan sumber daya manusia yang mendukung pendidikan dan pembelajaran.
f. Meningkatnya kesejahteraan tenaga kependidikan.
LAMPIRAN ANGKET YANG SUDAH DI JAWAB
Instrumen Pengamatan Pelaksanaan Program MBS di Sekolah
Nama SD : SD Negeri Kutowinangun 1
Alamat : Jl. Candi Sari No. 1
Kab/ Kota : Salatiga
A. Manajemen Sekolah | |||||
Isikan skor sesuai dengan hasil pengamatan pada pilihan jawaban | Skor & Metode Verifikasi | ||||
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
1 | Apakah sekolah memiliki visi dan misi ? | 3 | Ya, tertulis, dipajang dan sesuai dengan kondisi sekolah | 3 | |
2 | Ya, tertulis dan dipajang tidak sesuai dengan kondisi sekolah. | ||||
1 | Ya, tetapi tidak dipajang dan atau terdokumentasi | ||||
0 | Tidak | ||||
2 | Apakah visi dan misi sekolah disusun bersama pemangku kepentingan | 3 | Ya, disusun bersama pemangku kepentingan (KS, guru, dan komite sekolah) | 3 | |
2 | Ya, disusun oleh kepala sekolah dan guru. | ||||
1 | Ya, disusun oleh kepala sekolah atau guru. | ||||
0 | Tidak | ||||
3 | Apakah semua warga sekolah (kepala sekolah, guru, dan komite sekolah) mengetahui garis besar visi dan misi sekolah? | 3 | Semua warga sekolah ( kepala sekolah, semua guru, dan semua pengurus komite sekolah) tahu dan memahami rumusan visi dan misi sekolah. | 3 | |
2 | Kepala sekolah dan semua guru tahu rumusan memahami rumusan visi dan misi sekolah | ||||
1 | Kepala sekolah dan sebagian guru tahu rumusan dan memahami rumusan visi dan misi. | ||||
0 | Hanya kepala sekoalah yang memahami rumusan visi dan misi sekolah. | ||||
4 | Apakah visi dan misi sekolah | 3 | Mudah diakses dari mana saja | 2 | |
2 | Ya, terpajang di satu tempat dan mudah dibaca. | ||||
1 | hanya dapat diakses secara terbatas. | ||||
0 | Tidak bisa diakses | ||||
5 | Apakah sekolah memiliki RKS dan RKAS yang sistematis dan selalu diperbaharui? | 3 | Ya, kerangkanya sistematis dan selalu diperbaharui setiap tahun. | 2 | |
2 | Ya, kerangkanya sistematis tetapi tidak diperbaharui setiap tahun. | ||||
1 | Ya, tetapi kerangkanya tidak sistematis dan tidak diperbaharui setiap tahun. | ||||
0 | Tidak memiliki RKS dan RKAS | ||||
6 | Apakah RKS dan RKAS memuat tentang : 1. Pendidikan ramah anak 2. Pendidikan inklusi 3. Pendidikan kecakapan hidup. | 3 | RKS dan RKAS memuat ketiganya | 3 | |
2 | RKS dan RKAS hanya memuat dua dari tiga | ||||
1 | RKS dan RKAS hanya memuat satu dari tiga | ||||
0 | RKS dan RKAS tidak memuat ketiganya. |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
7 | Apakah RKS memuat rencana pemeliharaan sekolah? | 3 | Ya, dengan anggaran dan kegiatan pemeliharaan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. | 2 | |
2 | Ya, dengan anggaran dan kegiatan yang jelas tetapi belum sesuai dengan kebutuhan sekolah. | ||||
1 | Ya, tetapi anggaran dan kegiatan tidak disebutkan dengan jelas | ||||
0 | Tidak ada | ||||
8 | Berapa prosenkah muatan RKS dan RKAS yang digunakan sebagai acuan kegiatan penyelenggaraan sekolah? | 3 | 75 -100% | 3 | |
2 | 50-74% | ||||
1 | 25-49% | ||||
0 | kurang dari 25% | ||||
9 | Berapa prosenkah ketercapaian RKAS? | 3 | 75 -100% | 3 | |
2 | 50-74% | ||||
1 | 25-49% | ||||
0 | kurang dari 25% | ||||
10 | Adanya laporan RKAS dan dapat diakses | 3 | Laporan rutin ada dan disampaikan ke pemangku kepentingan | 3 | |
2 | Laporan rutin dibuat tetapi untuk kalangan terbatas | ||||
1 | Laporan rutin ada tetapi tidak dapat diakses | ||||
0 | Tidak ada | ||||
11 | Apakahada data inventaris sekolah dan bagaimana kondisinya? | 3 | 2 | ||
2 | |||||
1 | laporan rutin ada tetapi tidak dapat diakses | ||||
0 | Tidak ada | ||||
12 | Apakah ada data ketenagaan dan siswa? | 3 | 3 | ||
2 | |||||
1 | |||||
0 | Tidak ada | ||||
13 | Apakah tersedia sumber air bersih yang cukup di sekolah? | 3 | Ya, tersedia, bersih dan cukuo untuk kebutuhan sekolah | 3 | |
2 | Ya, tersedia, bersih tetapi tidak cukup untuk kebutuhan sekolah | ||||
1 | Ya, tersedia,tetapi tidak bersih atau tidak cukup untuk kebutuhan sekolah | ||||
0 | Tidak ada |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
14 | Apakah tersedia kamar kecil / toilet yang berfungsi dengan jumlah yang cukup untuk siswa? | 3 | Ya, toilet berfungsi, tersedia dalam jumlah cukup, dan terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan. | 3 | |
2 | Ya, toilet berfungsi, tersedia dalam jumlah cukup, tetapi tidak terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan. | ||||
1 | Toilet berfungsi tetapi tidak dalam jumlah cukup | ||||
0 | Tidak ada toilet atau toilet tidak berfungsi | ||||
15 | Apakah tersedia bak sampah di sekolah? | 3 | Ya, berfungsi baik, dan terawat kebersihannya | 2 | |
2 | Ya, berfungsi baik, tetapi kurang terawat kebersihannya | ||||
1 | Ya, tetapi kurang berfungsi dan kurang terawat kebersihannya | ||||
0 | Tidak ada | ||||
16 | Apakah sekolah memiliki area bermain untuk anak di luar kelas? | 3 | Ya, dengan area yang aman, cukup memadai, dan bersih. | 2 | |
2 | Ya, dengan area yang aman dan cukup memadai | ||||
1 | Ya, dengan area yang aman tetapi tidak cukup memadai | ||||
0 | Tidak ada | ||||
17 | Apakah sekolah memiliki tata tertib kelas dan bagaimana penyusunannya? | 3 | Seluruh kelas memiliki tata tertib yang disusun dan disepakati bersama oleh semua siswa dan guru. | 3 | |
2 | Sebagian kelas memiliki tata tertib yang disusun dan disepakati bersama oleh semua siswa dan guru. | ||||
1 | Ada tata tertib kelas tetapi disusun oleh guru secara sepihak | ||||
0 | Tidak memiliki | ||||
18 | Berapa persenkah warga sekolah yang menaati tata tertib? | 3 | Semua atau hampir semua ( di atas 90% ) | 2 | |
2 | Sebagian besar ( 75 - 90 % ) | ||||
1 | Sebagian ( 50- 74% ) | ||||
0 | Sebagian kecil ( kurang dari 50% ) | ||||
19 | Berapa persenkah warga sekolah membuang sampah pada tempatnya? | 3 | Semua atau hampir semua ( di atas 90% ) | 2 | |
2 | Sebagian besar ( 75 - 90 % ) | ||||
1 | Sebagian ( 50- 74% ) | ||||
0 | Sebagian kecil ( kurang dari 50% ) | ||||
20 | Adakah perlakuan : 1. kekerasan fisik 2. emosional 3. penelantaran di sekolah 4. pelecehan seksual | 3 | Tidak untuk semua | 3 | |
2 | Ya, untuk 1 dan 2 | ||||
1 | ya, untuk 1, 2, dan 3 | ||||
0 | ya, untuk 4 dan kekerasan berat lainnya |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
21 | Apakah sekolah menerapkan disiplin positif atau konsekuensi logis? | 3 | Selalu, bentuk pelanggaran ditanggapi dengan konsekuensi logis dan dicatat. | 3 | |
2 | Selalu, bentuk pelanggaran ditanggapi dengan konsekuensi logis tetapi tidak dicatat. | ||||
1 | Penerapan konsekuensi logis kadang-kadang tidak sesuai dengan bentuk pelanggaran dan tidak dicatat | ||||
0 | Tidak menerapkan konsekuensi logis | ||||
22 | Apakah kepala sekolah selalu meningkatkan kemampuan profesionalnya? | 3 | Ya, Kepala Sekolah secara rutin terlibat dalam kegiatan KKKS dan selalu membagi pengalamannya di sekolah dalam rangka pembinaan guru. | 3 | |
2 | Ya, tetapi kepala sekolah tidak secara rutin terlibat dalam kegiatan KKKS dan hasilnya jarang dipakai. | ||||
1 | Kepala sekolah jarang terlibat dalam kegiatan KKKS | ||||
0 | Kepala sekolah tidak pernah terlibat dalam kegiatan KKKS | ||||
23 | Apakah guru selalu meningkatkan kemampuan profesionalanya? | 3 | Semua guru terlibat aktif dalam kegiatan rutin KKG serta melaksnakan semua hasilnya untuk meningkatkan PAKEM | 2 | |
2 | Sebagian guru terlibat aktif dalam kegiatan rutin KKG serta melaksanakan semua hasilnya untuk meningkatkan PAKEM | ||||
1 | Guru-guru jarang mengikuti kegiatan KKG | ||||
0 | Guru-guru tidak pernah terlibat dalam kegiatan KKG |
B. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan | ||||||
Isikan skor sesuai dengan hasil pengamatan pada pilihan jawaban | Skor & Metode Verifikasi | |||||
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | ||
1 | Apakah program semester pembelajaran tersedia di kelas? | Pengamatan kelas, wawancara dengan guru dan atau kepala sekolah | ||||
Tidak | ||||||
2 | apakah Program Semester digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas? | 3 | Ya, seluruhnya digunakan | 3 | Pengamatan kelas, wawancara dengan guru dan atau kepala sekolah da dokumen program. | |
2 | Ya, sebagian besar digunakan | |||||
1 | Ya, sebagian kecil digunakan | |||||
0 | Tidak digunakan | |||||
3 | Apakah silabus pembelajaran tersedia untuk semua pembelajaran /tema? | Pengamatan kelas, wawancara dengan guru dan dokumen silabus pembelajaran | ||||
Tidak | ||||||
4 | Apakah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP ) dan perangkatnya tersedia untuk semua mata pelajaran / tema? | 3 | Ya, semua kelas dan semua mata pelajaran. | 2 | Pengamatan kelas, wawancara dengan guru, dan dokumen RPP | |
2 | Ya, semua kelas dan beberapa mata pelajaran. | |||||
1 | Ya, beberapa kelas dan beberapa meta pelajaran | |||||
0 | Tidak tersedia | |||||
5 | Apakah kegiatan pembelajaran dalam RPP sesuai dengan Permendiknas nomor 41 tahun 2007 tentang stsndar proses? | 3 | Ya, kegiatan pembelajaran mengandung 3 aspek yaitu eksplorasi, elaborasi, dan komfirmasi. | 2 | Wawancara dengan guru, dan dokumen RPP | |
2 | Ya, sebagian besar sesuai RPP | |||||
1 | Ya, sebagian kecil sesuai RPP | |||||
0 | Tidak sesuai RPP | |||||
6 | Apakah pembelajaran sesuai dengan RPP yang dibuat? | 3 | Ya, semua sesuai RPP | 3 | Pengamatan kelas, wawancara dengan gru, dan dokumen RPP | |
2 | Ya, semua kelas dan beberapa mata pelajaran. | |||||
1 | Ya, beberapa kelas dan beberapa mata pelajaran. | |||||
0 | Tidak sesuai RPP | |||||
7 | Apakah guru menggunakan metode pembelajara yang tepat dan bervariasi? | 3 | Ya, tepat dan bervariasi. | 3 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan siswa | |
2 | Ya, bervariasi tetapi tidak tepatatau tidak bervariasi tetapi tepat. | |||||
1 | ||||||
0 | Tidak tepat dan bervariasi | |||||
8 | Bagaimana guru menggunakan metode pembelajaran? | 3 | Terampil dan sesuai dengan kompetensi yang dibelajarkan. | 3 | Pengamatan kelas | |
2 | Kurang terampil sesuai dengan kompetensi yang dibelajarkan. | |||||
1 | Terampil tetapi kurang sesui dengan kompetensi yang dibelajarkan. | |||||
0 | Tidak terampil dan tidak sesuai dengan kompetensi yang dibelajarkan. |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
9 | Bagaimana keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar secara berkelompok misalnya berdiskusi? | 3 | semua siswa aktif | 2 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan guru |
2 | sebagian besar siswa aktif | ||||
1 | sebagian kecil siswa aktif | ||||
0 | tidak aktif | ||||
10 | Bagaimana kualitas pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa? | 3 | Pertanyaan yang diajukan guru (selalu) memancing siswa untuk mengeluarkan ide mereka sendiri | 2 | Pengamatan kelas |
2 | Pertanyaan yang diajukan guru memancing siswa untuk menerapakan apa yang telah dipelajari | ||||
1 | Pertanyaan yang diajukan guru memancing siswa untuk mengingat apa yang telah dipelajari | ||||
0 | Pertanyaan yang diajukan guru tidak memancing respon siswa | ||||
11 | Bagaimana cara guru mengajukan pertanyaan kepada siswa? | 3 | Guru mengajukan pertanyaan, mengamati respon siswa dan menunjuk siswa yang harus menjawab | 3 | Pengamatan kelas |
2 | Guru mengajukan pertanyaan kemudian segera menunjuk salah seorang siswa untuk menjawab | ||||
1 | Guru menunjuk salah seorang siswa kemudian mengajukan pertanyaan | ||||
0 | Guru mengajukan pertanyaan dan membiarkan siswa menjawab beramai-ramai | ||||
12 | Bagaimana interaksi terjadi dalam pembelajaran? | 3 | Ada interaksi guru-siswa, siswa-siswa (multiarah) | 3 | Pengamatan kelas |
2 | Ada interaksi dua arah antara guru-siswa secara seimbang | ||||
1 | Ada interaksi dua arah antara giri-siswa, tetapi guru masih dominan | ||||
0 | Kominikasi satu arah dari guru ke siswa | ||||
13 | Bagaimana keberanian siswa dalam bertanya, menjawab, atau menyatakan pendapat? | 3 | Siswa berani bertanya, menjawab, atau menyatakan pendapat dengan tertib | 2 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan guru |
2 | Siswa berani bertanya, menjawab, atau menyatakan pendapat bila ditunjuk guru | ||||
1 | Siswa hanya berani menjawab dan menyatakan pendapat secara beramai-ramai | ||||
0 | Siswa tidak berani bertanya, menjawab, atau menyataka pendapat | ||||
14 | Bagamana guru menstimulasi kemampuan berpikir kritis siswa? | 3 | Bantuan atau intervensi guru kepada siswa selalu bersifat memancing siswa untuk berfikir, misalnya dengan mengajukan pertanyaan bersifat terbuka (dalam batas kemampuannya) | 2 | Pengamatan kelas |
2 | Bantuan atau intervensi guru kepada siswa selalu bersifat memancing siswa untuk berfikir, misalnya dengan mengajukan pertanyaan (dalam batas kemampuannya) | ||||
1 | Bantuan atau intervensi guru kepada siswa selalu bersifat 'memberitahu' | ||||
0 | Guru tidak merangsang siswa untuk berpikir kritis |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
15 | Bagaimana pengelolaan siswa dalam kelas dilakukan? | 3 | pengelolaan siswa di dalam kelas bervariasi (seperti klasikal, kelompok, berpasangan, individu, dsb?, sesuai dengan materi pelajaran dan memancing keaktifan siswa | 3 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan guru |
2 | Pengelolaan siswa di dalam kelas bervariasi (seperti klasikal, kelompok, berpasangan, individu, dsb), sesuai dengan materi pelajaran tetapi tidak memandang keaktifan siswa. | ||||
1 | pengelolaan siswa di dalam kelas bervariasi (seperti klasikal, kelompok, berpasangan, individu,dsb), siswa aktif tetapi belum sesuai dengan materi pelajaran. | ||||
0 | Pengelolaan siswa di dalam kelas tidak bervariasi | ||||
16 | Bagaimana guru memanfaatkan sumber belajar? | 3 | Guru terampil menggunakan berbagai sumber belajar (termasuk lingkungan sekitar) yang sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan. | 2 | Pengamatan kelas |
2 | Guru terampil menggunakan berbagai sumber belajar sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan namun buku masih dominan. | ||||
1 | Guru menggunakan buku sebagai sumber belajar dan penggunaannya sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan | ||||
0 | Guru hanya menggunakan buku sebagai sumber belajar namun penggunaannya tidak sesuai dengan kompetensi yang dikembangkan. | ||||
17 | Bagaimana guru menggunakan media dalam pembelajaran? | 3 | Guru menggunakan media untuk memberikan contoh kongkrit yang menghubungkan antara teori dan praktik dan merangsang anak berfikir kritis. | 3 | Pengamatan kelas dan dokumen RPP |
2 | Guru menggunakan media untuk memberikan contoh kongkrit yang menghubungkan antara teori dan praktik tetapi sifatnya hanya memberi informasi. | ||||
1 | Guru menggunakan media tetapi tidak memberikan contoh kongkrit yang menghubungkan antara teori dan praktik. | ||||
0 | Guru tidak menggunakan alat peraga | ||||
18 | bagaimana keterlibatan siswa dalam pembelajaran? | 3 | Seluruh siswa dapat melihat dengan jelas demonstrasi penggunaan alat peraga,dapat mendengar penjelasan demonstrasi alat peraga, dan memahami cara penggunaannya. | 2 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan siswa |
2 | Sebagian besar siswa dapat melihat dengan jelas demonstrasi penggunaan alat peraga, dan memahami cara penggunaannya. | ||||
1 | Sebagian besar siswa dapat melihat dengan jelas demonstrasi penggunaan alat peraga, tetapi tidak memahami cara penggunaannya. | ||||
0 | Hanya sebagian kecil siswa dapat melihat dengan jelas demonstrasi penggunaan alat peraga, dapat mendengar penjelasan demonstrasi alat peraga, dan tidak memahami cara penggunaannya. | ||||
19 | Jika guru menggunakan LKS, bagaimana kualitas lembar kerja yang digunakan dalam pembelajaran? | 3 | Lembar kerja mendorong siswa untuk menemuka konsep/ gagasan/ cara/ rumus dan menerapkannya dalam konteks lain. | 2 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan guru |
2 | Lembar kerja mendorong siswa untuk menemukan konsep/ gagasan/ cara/ rumus. | ||||
1 | Lembar kerja hanya berisi tes dan soal. | ||||
0 | Lembar kerja tidak digunakan. |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
20 | Bagaimana kualitas hasil karya tulis siswa? | 3 | Hasil karya tulis siswa ditulis dengan kata-kata sendiri, dan sudah dikembangkan. | 2 | Pengamatan hasil karya siswa dan wawancara dengan guru |
2 | hasil karya tulis siswa ditulis dengan kata-kata sendiri, dengan kosa kata yang masih terbatas. | ||||
1 | Hasil karya tulis siswa belum ditulis berdasarkan kata-kata sendiri (misalnya masih didekte) | ||||
0 | Siswa belum mampu menghasilkan karya tulis | ||||
21 | Bagaimna hasil karya siswa dipajangkan? | 3 | Hasil karya tulis siswa dipajang, diperbaharui, dan ditata dengan rapi. | 1 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan guru |
2 | Banyak hasil karya para siswa yang dipajang namun tidak ditata dengan rapi dan tidak diperbaharui. | ||||
1 | Sedikit hasil karya siswa yang dipajang dan jarang diganti. | ||||
0 | Tidak ada karya siswa yang dipajang. | ||||
22 | bagaimana guru memberikan umpan umpan balik terhadap hasil belajar siswa? | 3 | Hasil belajar siswa dijadikan referensi evaluasi mengajar guru dan pelaksanaan remidial atau pengayaan pembelajaran siswa secara keseluruhan. | 2 | Pengamatan kelas dan wawancara dengan guru dan siswa |
2 | Umpan balik diberikan kepada siswa tetapi belum dijadikan referensi untuk remidial atau pengayaan pembelajaran. | ||||
1 | Guru memberikan penilaian final tanpa disertai saran perbaikan. | ||||
0 | Guru tidak memberikan umpan balik. | ||||
23 | Bagaimna jenis penilaian yang dilakukan guru dalam memantau kemajuan belajar sisewa? | 3 | Guru menggunakan penilaian proses dan hasil serta memanfaatkannya untuk kegiatan tindak lanjut. | 2 | wawancara dengan guru dan atau kepala sekolah |
2 | Guru menggunakan penilaian proses dan hasil untuk memantau kemajuan belajar siswa. | ||||
1 | Guru menggunakan jenis penilaian hasil untuk memantau kemajuan belajar siswa. | ||||
0 | Guru tidak menggunakan penilaian untuk memantau kemajuan belajar siswa. | ||||
24 | Bagaimana guru mengembangkan kegiatan mandiri siswa? | 3 | Kegiatan mandiri siswa dilakukan dengan memperhatikan bakat dan minat siswa, disediakan alokasi waktu yang cukup, dan terorganisir dengan baik. | 2 | Wawancara dengan guru dan siswa |
2 | Kegiatan mandiri siswa dilakukan dengan memperhatikan bakat dan minat siswa, tetapi tidak disediakan alokasi waktu yang cukup dan kegiatan tidak terorganisir dengan baik. | ||||
1 | Minat dan bakat siswa tidak terakomodasi dengan baik dalam kegiatan mandiri siswa. | ||||
0 | Tidak dilakukan pengembangan kegiatan mandiri siswa. | ||||
25 | Seberapa banyak siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal ( KKM ) yang ditetapkan? | 3 | Semua siswa dan semua mata pelajaran | Wawancara dengan guru | |
2 | Semua siswa dan beberapa mata pelajaran | ||||
1 | Beberapa siswa dan beberapa mata pelajaran | ||||
0 | Sebagian kecil siswa | ||||
26 | Apakah tersedia sudut baca dikelas? | 3 | 0 | ||
2 | |||||
1 | |||||
0 | Tidak ada |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
27 | Buku-buku apa saja yang tersedia di sudut baca/ perpustakaan? | 3 | Buku teks, buku guru, LKS, dan buku - buku yang relevan untuk mendukung kegiatan pembelajaran. | 3 | Pengematan sudut baca perpustakaan |
2 | Buku teks, buku guru, dan LKS | ||||
1 | Buku teks | ||||
0 | Tidak ada sudut baca / perpustakaan. | ||||
28 | Bagaimana pemanfaatan buku perpustakaan sebagi sumber belajar. | 3 | Dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan menumbuhkan minat baca siswa. | 3 | |
2 | |||||
1 | |||||
0 | |||||
29 | Apakah guru mengorong siswa melakukan refleksi di akhir pembelajaran? | 3 | Ya, Guru selalu meminta siswa untuk melakukan refleksi setelah mempelajari suatu konsep/ keterampilan. | 2 | wawancara dengan guru dan siswa |
2 | Ya, Guru sering meminta siswa untuk melakukan refleksi setelah mempelajari suatu konsep/ keterampilan | ||||
1 | Ya, tetapi guru jarang meminta siswa untuk melakukan refleksi setelah mempelajari suatu konsep/ keterampilan | ||||
0 | Kegiatan refleksi tidak dilakukan |
C. Peran Serta Masyarakat | |||||
Isikan skor sesuai dengan hasil pengamatan pada pilihan jawaban | Skor & Metode Verifikasi | ||||
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
1 | Apakah komite sekolah melakukan fungsi-fungsi berikut : 1. Pendukung 2. Pemberi pertimbangan 3. Pengontrol 4. Mediator | 3 | Ya, menjalankan seluruh fungsi | 3 | Wawancara dengan kepala sekolah dan komite sekolah |
2 | Hanya 3 fungsi yang dilakukan | ||||
1 | Hanya 1 atau 2 fungsi yang dilakukan | ||||
0 | Tidak ada fungsi yang dijalankan | ||||
2 | Bagaimana proses pemilihan komite sekolah? | 3 | Pemiliha pengurus komite dilakukan secara bersamaan (KS, guru, dan perwakilan orang tua siswa) dan berjalan secara demokrasi | 3 | Wawancara dengan kepala sekolah. Komite sekolah/perwalian orang tua siswa atau guru |
2 | Pemilihan pengurus komite dilakukan oleh kepala sekolah dan orang tua siswa dan berjalan secara demokratis. | ||||
1 | Pemilihan pengurus komite hanya dilakukan oleh kepala sekolah dan guru | ||||
0 | Pemilihan pengurus komite hanya dilakukan oleh kepala sekolah. | ||||
3 | Apakah pengurus komite sekolah memahami tugas pokok dan fungsinya? | 3 | Ya, semua pengurus | 2 | wawancara dengan ketua dan pengurus komite sekolah |
2 | Ya, sebagian besar pengurus | ||||
1 | Ya, sebagian kecil pengurus | ||||
0 | Komite sekolah tidak memahami tugas pokok dan fungsinya | ||||
4 | Bagaimana program komite sekolah disusun? | 3 | Disusun secara bersama -sama oleh semua pemangku kepentingan di sekolah. | 2 | Wawancara denga kepala sekolah, komite. Dan atau guru dan dokumen program komite |
2 | Disusun oleh ketua komite dan kepala sekolah | ||||
1 | Disusun hanya oleh komite sekolah | ||||
0 | Tidak memiliki program | ||||
5 | Prosentase keterlaksanaan program komite sekolah? | 3 | 75 - 100% | 3 | Wawancara dengankomite sekolah, kepala sekolah dan dokumen program komite sekolah |
2 | 50 - 74% | ||||
1 | 25 - 49% | ||||
0 | Sebagian kecil tercapai (kurang dari 25%) | ||||
6 | Bagaimana tingkat partisipasi orang tua dalam membimbing siswa belajar dirumah? | 3 | Seluruhnya atau hampir seluruh orang tua ikut membimbing siswa belajar ( 75 - 100% ) | 2 | Survey di kelas |
2 | Sebagian besar orang tua ikut membimbing siswa belajar ( 50 - 74% ) | ||||
1 | Kurang dari sebagian orang tua ikut membimbing siswa belajar ( 25 - 49% ) | ||||
0 | Sebagian kecil orang tua ikut membimbing siswa belajar ( kurang dari 25% ) | ||||
7 | Apakah orang tua mendapatkan informasi yang cukup dalam proses penyusunan kurikulum materi pelajaran sekolah? | 3 | Ya, orang tua paham dengan muatan kurikulum, terlibat dalam penyusunan dan memberi masukan. | 2 | wawancara denga n orang tua murid |
2 | Ya, orang tua paham dengan muatan kurikulum dan terlibat dalam penyusunan tetapi tidak memberi masukan. | ||||
1 | Ya, orang tua paham dengan muatan kurikulum tetapi tidak terlibat dan memberi masukan dalam penyusunan. | ||||
0 | Tidak |
No | Aspek Pengamatan | Pilihan Jawaban | Skor | Metode Verifikasi | |
8 | Apakah masyarakat ikut membantu penyelenggaraan kegiatan sekolah, seperti dana pemikiran, barang, tenaga, keamanan, atau sebagai | 3 | Ya, untuk semua bentuk bantuan | 2 | Wawancara dengan kepala sekolaj dan komite sekolah |
2 | Ya, untuk beberapa bentuk bantuan | ||||
1 | Ya, untuk sebagian kecil bentuk bantuan | ||||
0 | Tidak membantu penyelenggaraan kegiatan sekolah | ||||
9 | Apakah pengurus komite sekolah menyusun laporan secara tertulis kepada sekolah terkait kegiatan yang dilakukan? | 3 | Ya, pada setiap akhir kegiatan dan akhir semester | 1 | Wawancara dengan komite sekolah dan kepala sekolah, dan laporan kegiatan komite sekolah. |
2 | Ya, pada setiap akhir semester | ||||
1 | Ya pada setiap akhir tahun | ||||
0 | Tidak meyusun laporan |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar